Cari Blog Ini

Selasa, 15 November 2016

PENERAPAN PERBEDAAN INDIVIDU PADA SISWA


PENERAPAN PERBEDAAN INDIVIDU


KUIS
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Rancangan Pembelajaran
yang dibina oleh Ibu Prof. Dr. Ruminiati, M.Si




Oleh Kelompok 4 :
                             Ayu Devia Miftahul Hasanah             162103801592/3
                             Dewi Izzatu Afifah                             162103801595/5
                             Dwi Virgo Mulia Asmara                   162103801644/6



Description: Description: Description: logo um copy transparant 600px
 










PENDIDIKAN DASAR PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OKTOBER 2016

PERBEDAAN PESERTA DIDIK
Perserta didik memiliki perbedaan individual sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran. Peserta didik memiliki emosi yang sangat bervariasi, dan sering memperlihatkan sejumlah perilaku yang tampak aneh. Pada umumnya perilaku tersebut relatif normal, dan cukup bisa ditangani dengan iklim pembelajaran yang kondusif. Akan tetapi, karena guru di sekolah dihadapkan pada sejumlah peserta didik, guru seringkali kesulitan untuk mengetahui mana perilaku yang normal dan wajar, serta mana perilaku yang disiplin dan perlu mendapat penanganan khusus.
Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan, kelemahan , minat, dan perhatianyang berbeda-beda. Latar belakang keluarga, latar belakang sosial ekonomi, dan lingkungan, membuat pesert didik berbeda dalam aktifitas, kreatifitas intelegensi, dan kopetensinya. Guru seharusnya dapat mengidentifikasi perbedaan individual peserta didik dan menetapkan karakteristik umum yang menjadi ciri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang menjadi karakteristik umumlah harusnya guru memulai pemberi pembelajaran. Dalam hal ini, guru juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan dan yang harus diserahkan kembali.
Seorang peseta didik yang aktif secara fisik mungkin bisa didorong untuk mengekplorasi dirinya. Melalui kegiatan olah raga. Jika seorang peserta didik memperlihatkan minatnya terhadap musik, maka carilah berbagai cara untuk mendorongnya agar minatnya bisa berkembang secara optimal, demikian halnya anak-anak yang memiliki kecerdasan diatas normal perlu diberi perhatian secara khusus .
Sehubungan dengan uraian diatas , aspek-aspek peserta didik yang perlu dipahami guru antara lain : kemampuan, potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil belajar, catatan kesehatan, latar balakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah. Aspek-aspek tersebut dapat dipelajari dari laporan dan catatan sekolah., informasi dari peserta didik lain (teman dekatnya), observasi langsung dalam situasi kelas, dan dalam bernbagai kegiatan lain di luar kelas, serta informasi dari peserta didik itu sendiri, berdasarkan wawancara, percakapam dam autobiograpi.


1)        Membimbing Peserta Didik yang Lamban
Slow learning atau lamban belajarmerupakan salah saru bentuk kesulitan belajar. Peserta didik yang lamban belajra akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran, menganalisa apa yang dipelajari , dan emngalami kesulitan dalam memahami isi pembelajaran, serta sulit membentuk kopetensi, dan mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Slow learning menunjuk pada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akibat kelambanan dalam perkembangan, terutama perkembangan mental. Kemampuan peserta didik yang lamban belajar lebih rendah dibanding perkembangan rata-rata teman sebayanga. Kelemahan perkembangan ini disebabkan oleh tingkat kecerdasan atau IQ dibawag rata-rata umum atau dubawah normal.
Peserta slow learning juga sering mengalami kelambanan dalam pertumbuhan jasmaninya.
*             Ciri-ciri peserta didik yang lambat belajar
Peserta didik yang tergolong lambat belajar akan menampakkan gejala-gejala yang menjadi ciri-ciri sebagai berikut :
a.              Lamban. Peserta didik kelompok lambat belajar lamban dalam menerima dan mengolah pembelajaran, lamban dalam bekerja, lamban dalam memahami isi bacaan, serta lamban dalam menganalisis, dan memecahkan masalah.
b.             Kurang mampu. Peserta didik kelompok lambat belajar kurang mampu berkonsentrasi, berkomunikasi dengan orang lain. Mengemukakan pendapat, serta kurang kreatif, dan mudah lupa mengemukakan pendapat, serta kurang kreatif, dan mudah lupa (susah ingat mudah lupa)
c.              Tidak berprestasi.  Peserta didik kelompok lambat belajar prestasi akademisnya rendah dan hasil kerjanya tidak memuaskan.
d.             Motoriknya lamban. Peserta didik kemlompok lambat belajar pada umumnya lamban dalam belajar berjalan, terlambat dalam belajar bicara, serta gerakan-gerakan ototnya kendor, dan tidak lincah.
e.              Perilaku negatif. Peserta diidk kelompok lambar belajar sering memiliki perilaku yang kurang baik, kebiasaan jelek, dan tidak produktif
*             Memahami latar belakang peserta didik lambat belajar
Untuk memberikan bantuan dan bimbingan secara tepat, dan berhasil kepada peserta didik yang lambat belajar, perlu dipahami berbagai hal yang melatarbelakanginya. Untuk kepentingan tersebut berbagai usaha yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
a)      Studi dokumentasi, mempelajari buku catatan pribadi, dokumen perkembangan pribadi, dan catatan kesehatan
b)      Mengumpulkna data baru sebagai pelengkap.
Dalam rangka memahami dan mengenal latar belajang peserta didik, sebagai upaya melengkapi informasi yang sudah ada, perlu ditempuh dengan cara lain disamping mempelajari data pribadi peserta didik. Cara lain ini dapat dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut :
1)        Home visit (kunjungan rumah) yakni mengadakan kunjungan ke orang tua peserta didik untuk memahami situasi dan kondisi keluarga, dan lingkungannya.
2)        Tes Psikologi, untuk memahami kemampuan psikisnya. Misalnya tes itelegensi, tes bakat dan tes minat.
3)        Wawancara dengan orang tua temannya. Kegiatan wawancara ini bisa dilakukan bersamaan dengan kunjungan rumah, bisa juga memangil atau mengundang orang tua kesekolah.
4)        Observasi terhadap kegiatan peserta didik pada waktu bermain atau berkerja melakukan tugas kelompok untuk memahami hubungan sosial dengan teman-temannya.
Dari berbagai usaha yang dilakukan diatas akan diperole data yang dapat menggambarkan latar belajang peserta didik. Perlu didasari bahwa tidak semua data diperoleh relevan dengan masalah, sehingga perlu dilakukan seleksi data. Seleksidara ini diperlukan untuk memilah dan memilih data yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi dan dipecahkan, dengan data yang kurang atau tidak menunjang atau ttidak berkaitan dengan masalah yang dihadapi.

*      Usaha-usaha bimbingan
Guru dituntut untuk kesabarannya dalam menghadapi peserta didik yang lambat belajar,  karena ciri-ciri, sifat dan perilakunya selalu lambat. Tanpa kesadaran guru peserta didik akan menjadi mudah putus asa. Apalagi jika usaha-usaha bantuan yang diberikan tidak segera menampakkan hasilnya. Lebih dari itu guru yang tidak sabar dan kurang telaten akan segera meninggalkan tugas bimbingan dan membiarkan peserta didiknya terlantar.
Bentuk bimbingan yang diberikan kepada slow learner bergantung pada kemungkinan masalah atau latar belakang masalah masing-masing. Sesuai dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh peserta didik lambat belajar dan lataar belakang peseta didik, maka bimbingan yang diberikan dapat diidentifikasi sebagai berikut.
a.       Pemberian informasi tentang cara-cara belajar yang efektif, baik cara belajar disekolah maupun dirumah. Misalnya, cara belajar yang efektif membuat singkatan, dan cara menggunakan atau mengisi waktu senggang.
b.      Bantuan penempatan (placement), yakni menempatkan peserta didik dalam kelompok-kelompok kegiatan yang sesuai, seperti kelompok belajar, kelompokdiskusi, dan kelompok kerja. Namtuan penempatam ini dapat pula berfungsi sebagai perbaikan terhadap masalah dan kesulitan sosial yang dialami peserta didik.
c.       Mengadakan pertemuan dengan orang tua untuk melakukan konsultasi, mendiskusikan kesulitan-kesulitan peserta didik serta mencari cara-cara pemecahannya, terutama berkaitan dengan cara memberikan dorongan agar peserta didik giat belajar, dan cara-cara melayani atau memperlakukan peserta didik dirumah.
d.      Memberikan pembelajaran remidi (remidial teaching), yakni mengadakan pembelajaran kembali atau pembelajaran ulang secara khusus bagi para peserta didik yang lamban untuk mengajarkan ketinggalan dari kawan-kawannya.
e.       Menyajikan pembelajaran secara kongkrit dan aktual kepada peserta didik yang lamban, yakni dengan menggunakan berbagai variasi media dan variasi metode pembelajaran, untuk membantu mereka dalam memahami konsep-konsep pembelajaran.
f.        Memberikan layanan konseling bagi peserta didik yang menghadapi kesulitan-kesulitan emosional, serta hambatan-hambatan lain sesuai latar belakang masing-masing.
g.      Membarikan perhatian khusu kepada peserta didik yang lamban, dan berusaha untuk membangkitkan motivasi dan kreatifitas belajarnya, misalnya melalui hadiah dan pujian.

2)      Membimbing Peserta Didik yang Cerdas di Atas Normal
Peserta didik yang tergolong cerdas adalah mereka yang memiliki IQ di atas normal. Sedangkan pendidikan untuk anak-anak yang terbatas dengan daya tampung yang masih kurang. Kondisi tersebut mengakibatkan peserta didik yang cerdas terpaksa mengikuti sekolah-sekolah biasa, yang diperutukkan bagi anak-anak normal. Masuknya anak-anak istimewa ini di sekolah-sekolah biasa, tentu saja akan banyak membawa dampak negatif bagi perkembangannya kemampuan peserta didik itu sendiri, bila kepadanya kurang perhatian serta perlakuan yang wajar, da kurang adamya penyuluhan yang tepat. Untuk menghindari hal tersebut, guru dan tenada kependidikan lain di sekolah perlu dibekali pula dengan teknik bimbingan atau teknik membimbing peserta didik secara tepat waktu dan tepat sasaran. Dikatakan demikian, karema seringkali tindakan-tindakan guru buka memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik, tetapi menghambat bahkan mematahkan perkembangan peserta didik misalnya memberikan jawaban yang tidak memuaskan, tidak tepat atautifak sesuai harapan peserta dikdik; menggunakan hadiah dan hukuman secara berlebihan atau tidak pada tempatnya. Sehubungan dengan itu, sedikitnya guru harus memahami ciri-ciri anak luar biasa diatas normal dan cara memberikan bimbingan yang tepat.
*      Ciri-Ciri Anak Luar Biasa di atas Normal
Peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas normal sebenarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok; pertama, kelompok pandai sekali dengan IQ 130 ke atas; dan kedua kelompok pandai dengan IQ 130 ke atas. Dua kelompok ini merupakan peserta didik luar biasa diatas normal, yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
c)      Belajar berjalan dan bicara lebih awal dan cepat menguasai kosa kata dalam jumlah yang banyak
d)      Pertumbuhna jasmani lebih baik, otot-otot kuat, motoriknya gesit (lincah) dan energik
e)      Haus akan ilmu pengetahuan, dan menyukai serta sering mengikuti berbagai perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
f)       Mampu secara tepat menarik suatu generalisasi, dapat mengenal hubungan anatara fakta yang satu dengan fakta yang lain, cakrawala berpikirnya luas dan logis,kritis dan suka berdebat.
g)      Memiliki rasa ingin tahu (natural curiousity) yang tinggi, sehingga nampak suka membongkar-bongkar mainan dan membangunnya kembali
h)      Cepat dalam menerima, mengolah, memahami dan menguasai pembelajaran, prestasinya baik sekali dalam seluruh bidang studi.
i)       Cepat mengerjakan tugas dengan hasil baik
j)       Cepat dan tepat dalam bertindak
k)      Kurang sabar mengikuti hal-hal yang rutin dan monoton
l)       Cenderung tidak memiliki gangguan nervus (mudah bingung)
m)   Daya imajinasinya tinggi, dan mampu berpikir abstrak
n)      Cepat dalam bekerja, dan melakukan tugas sehingga banyak memiliki waktu luang.
*      Prinsip Dasar Membimbing Peserta Didik yang Cerdas
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipahami guru dalam memberikan bimbingan kepada peserta didik cepat belajar adalah:
a.       Perlu diupayakan untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar memperoleh perkembangan yang optimal sehingga dapat dicapai suatu kebahagiaan
b.      Bimbingan yang diberikan harus sesuai dengan ciri-ciri khusus serta kebutuhan peserta didik yang cepat belajar
c.       Setiap sekolaj harus diatur sedemikian rupa, sehingga tercipta suasana yang aman dan nyaman, dan memungkinkan peserta didik cepat belajar mengembangkan seluruh aspek pribadinya.
d.      Dalam memberikan bimbingan jangan semata-mata menekankan pada perkembangan aspek intelektualnya saja, tetapi perlu dikembangkan aspek-aspek yang lain seperti sikap, nilai, mental, moral, emosional, sosial, spiritual, dan tanggung jawab.
e.       Perlu dikuangi kegagalan dan pemborodan sejauh mungkin dengan jalan mendayagunakan seluruh bakat dan kecenderungan serta kreativitas peserta didik
Masalah-masalah yang dihadapi peserta didik cepat belajar pada umumnya bersumber dari kondisi-kondisi sebagai berikut:
a.       Kurang atau tidak adanya pengertian dari pihak pendidik (guru, orang tua, kepalas sekolah, konselor), mereka tidak mengerti bagaimana memerlakukan peseta didik yang cerdas
b.      Kurang adanya perhatian dari pihak pendidik. Perhatian pendidik umumnya ditujukan kepada peserta didik yang normal, paling-paling ditujukan kepada peserta didik yang lambat belajar.
c.       Anggapan yang keliru dari pendidik bahwa peserta didik yang cerdas akan mampu atau bisa memelihara, menjaga, dan mengembangkan dirinya sendiri tanpa bimbingan orang lain
d.      Kurang anggapan guru terhadap perilaku peserta didik yang cerdas, bahkan sering dianggap menggangu pembelajaran, atau mencemoohkan guru. Misalnya mengajukan pertanyaan yang diluar kemampuan guru untuk menjawabnya.
*      Reaksi Negatif
Perserta didik yang tergolong cerdas di atas normal tidak berbeda dengan teman lain.dalam arti sebenernya mereka juga memerlukan perhatian, penghargaan dan kasih sayang, karena hal tersebut merupakan sebagian dari kebutuhan pokok(basic needs). Namun demikian, dalam kenyataannya aoa yang dilakukan olehpendidik baik orang tua maupun guru kurang sekali perhatian kepada mereka. Hal ini disebabkan oleh ketidakmengertian guru dan orang tua mereka. Hal ini disebabkan oleh ketidaknyamanan guru dan orang tua tentang cara memperlakukan anak serta adanya anggapn yang keliru seperti disebut di atas.
*      Bimbingan Bagi Peserta Didik Cepat Belajar
Peserta didik yang cerdas juga sering mempunyai kesulitan,  sehingga mereka perlu mendapat layanan bimbingan maupun layanan pendidikan secara tepat,  agar dapat berguna bagi kepentingan dirinya sendiri maupun bagi kepentingan orang banyak.  Sehubungan itu,  penting bagi setiap sekolah untuk memberikan layanan yang tepat sesuai dengan kondisi peserta didik dan kebutuhannya.  Pemberian layanan yang dilakukan secara tepat diharapkan dapat membawa dampak positif bagi perkembangan setiap peserta didik dalam mengembangkan diri dan memperoleh kepuasan dalam hidupnya
Sehubungan dengan uraian di atas, dapat diidentifikasikan beberapa bentuk layanan yang dapat diberikan guru kepada peserta didik yang cepat belajar sebagai berikut.
a.         Usaha pencepatan (akselerasi). Anak cerdas diberi kesempatan untuk menyelesaikan suatu program pendidikan dalam jangka waktu yang lebih singkat berbeda dengan yang seharusnya dilakukan. Misalnya untuk menyelesaikan program pendidikan SMA,  jangka waktu yang biasa adalah 3 tahun, sedang bagi peserta didik yang cepat belajar bisa ditempuh hanya 2 tahun saja tidak perlu menunggu atau mengikuti prosedur umum.
b.        Menyediakan sekolah khusus yang menampung anak-anak cerdas atau berkualitas tinggi, sehingga mereka akan mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan kemampuannya. Dalam sekolah khusus ini perlu disediakan sarana yang memadai untuk menyalurkan bakat-bakatnya. Misalnya berupa penyediaan laboratorium beserta serta pengarahan dan binaan yang tepat dari guru yang berpengalaman. Akhir-akhir ini telah banyak didirikan sekolah- sekolah khusus sejenis ini yang diselenggarakan oleh lembaga-  lembaga swasta
c.         Jika terpaksa anak harus mengikuti sekolah yang terintegrasi dengan anak-anak normal, maka kepadanya perlu diberi kesempatan untuk memperdalam,  dan memperkaya pengeta huannya. Memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan dengan bimbingan yang tepat serta melaporkan hasil pekerjaannya kepada guru. Misalnya tugas membaca, mengikuti perlombaan, melakukan percobaan-percobaan atau penelitian, baik untuk menguji hipotesa maupun untuk menemukan penemuan-penemuan baru.
d.        Menyalurkan kemampuan peserta didik dalam kegiatan kegiatan-ilmiah,  mengikuti sertakan dalam lomba karya ilmiah yang diselenggarakan oleh instansi-instansi tertentu,  seperti lomba mengarang dan kegiatan-kegiatan lain yang sejenis. Melalui kegiatan ini,  maka kelebihan energi yang dimiliki oleh peserta didik yang cerdas di atas normal dapat disalurkan dan akan lebih bermanfaat.
e.         Melibatkan dan kesempatan kepada peserta didik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas organisasi dan sosial.  Misalnya organisasi intra sekolah (OSIS), Palang Merah Remaja (PMR),  Pramuka,  Kelompok  diskusi dan Kelompok Kesenian.
f.          Untuk mengurangi rasa superior (harga diri berlebih), sebaiknya guru dalam memberikan tugas atau pertanyaan-pertanyaan dilakukan secara proporsional.  Dalam hal ini,  tugas yang diberikan untuk anak cerdas haruslah tugas yang menantang dan memerlukan problem solving,  sedang tugas-tugas yang biasa dan kurang menantang diberikan kepada anak yang normal.  Dengan cara demikian,  peserta didik yang cerdas di atas normal akan merasa bahwa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kawan yang lain.  Hal ini penting sekali bagi perkembangan sikap dan pribadi peserta didik.
g.        Jika diperlukan, maka pada saat-saat tertentu guru hendaknya memberikan reinforcement pada peserta didik yang cerdas. Misalnya saat menemukan penemuan-penemuan baru, dan prestasi yang luar biasa.  Dengan demikian,  mereka memperoleh kepuasan,  serta dapat meningkatkat semangat atau motivasi untuk lebih berprestasi lagi.
Di samping beberapa hal yang dikemukakan di atas,  untuk dapat memberikan layanan kepada peserta didik yang cerdas secara tepat, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak dan berbagai lembaga yang terlibat langsung dalam pergaulan peserta didik.



3)      Individualisasi Pembelajaran
Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang efektif,  kreatif dan menyenangkan,  hendaknya pembelajaran tidak terbatas pada pembelajaran klasikal,  apalagi terbatas pada empat dinding kelas,  tetapi perlu diupayakan pembelajaran yang dapat melayani perbedaan peserta didik secara individual.  Sehubungan dengan itu,  guru perlu melakukan upaya-upaya untuk melakukan individualisasi pembelajaran.  Individualisasi pembelajaran dimaksudkan sebagai bentuk pembelajaran yang dapat melayani perbedaan peserta didik,  dan sesuai dengan kemampuan,  tempo belajar,  minat dan nafsu belajar masing-masing.  Berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam rangka individualisasi pembelajaran antara lain mencakup pembelajaran dengan modul (modular instruction),  pembelajaran berprograma (programe instruction),  dan pembelajaran melalui elektronik (E-Learning).  Program-program individualisasi pembelajaran tersebut telah dibahas dalam buku Implementasi Kurikulum 2004,  Panduan Pembelajaran KBK (2004).

















DAFTAR RUJUKAN

Mulyasa, E. 2011. Menjadi Guru Profesional. Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


PEMBELAJARAN INDIVIDUAL UNTUK SISWA

PEMBELAJARAN INDIVIDUAL UNTUK SISWA


UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
RANCANGAN PEMBELAJARAN

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Ruminiati, M.Si.



Oleh:
Alik Nadziroh                         NIM.162103801675
Mia Alfiana Prahartini            NIM.162103801502
Nofita Wulandari                    NIM.162103801396


Description: UM_malang.bmp











PENDIDIKAN DASAR PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Oktober 2016
PEMBELAJARAN INDIVIDUAL

A.    Pengertian Pembelajaran Individual
Pembelajaran individual merupakan suatu strategi pembelajaran, hal ini dijelaskan oleh Rowntree (1974) dalam Sanjaya (2008 : 128) membagi strategi pembelajaran ke dalam strategi penyampaian-penemuan atau exposition-discovery leraning strategy dan strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembelajaran individual atau groups-individual learning strategy.
Menurut Wina Sanjaya (2008:128) strategi pembelajaran individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan dan keberrhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan. Bahan pembelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri.
Pada strategi pembelajaran individual ini siswa dituntut dapat belajar secara mandiri, tanpa adanya kerjasama dengan orang lain. Sisi positif penggunaan strategi ini adalah terbangunya rasa percaya diri siswa, siswa menjadi mandiri dalam melaksanakan pembelajaran, siswa tidak memiliki ketergantungan pada orang lain. Namun di sisi lain terdapat kelemahan strategi pembelajaran ini, diantaranya jika siswa menemukan kendala dalam pembelajaran, minat dan perhatian siswa justru dikhawatirkan berkurang karena kurangnya komunikasi belajar antar siswa, sementara enggan beratanya kepada guru, tidak membiasakan siswa bekerjasama dalam sebuah team.
Sedangkan menurut Sudjana (2009 : 116) Pengajaran individual merupakan suatu upaya untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, kecepatan dan caranya sendiri.
Menurut Sudjana, Perbedaan-perbedaan individu dapat dilihat dari :
1.      Perkembangan intelektual
2.      Kemampuan berbahasa
3.      Latar belakang pengalaman
4.      Gaya belajar
5.      Bakat dan minat
6.      Kepribadian
Pembelajaran individu berorientasi pada individu dan pengembangan diri. Pendekatan ini memfokuskan pada proses dimana individu membangun dan mengorganisasikan dirinya secara realitas bersifat unik. (Hamzah B. Uno, 2008 : 16)
Menurut Muhammad Ali (2000 : 94) strategi belajar mengajar individual disamping memungkinkan setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan potensinya, juga memungkinkan setiap siswa menguasai seluruh bahan pelajaran secara penuh. “mastery learning “ atau belajar tuntas.
Strategi pengajaran yang menganut konsep belajar tuntas, sangat mementingkan perhatian terhadap perbedaan individual. Atas dasar ini sistem penyampaian pengajaran dilakukan dengan mengarah kepada siswa belajar secara individual. Muhammad Ali (2000 : 99)
Pembelajaran Individual atau Pengajaran Perseorangan merupakan suatu strategi untuk mengatur kegiatan belajar mengajar sedemikian rupa sehingga setiap siswa memperoleh perhatian lebih banyak dari pada yang dapat diberikan dalam rangka pengelolaan kegiatan belajar mengajar dalam kelompok siswa yang besar. Menurut duane (1973) pengajaran individual merupakan suatu cara pengaturan program belajar dalam setiap mata pelajaran, disusun dalam suatu cara tertentu yang disediakan bagi tiap siswa agar dapat memacu kecepatan belajarnya dibawa bimbingan guru.
Adanya perbedaan individual menunjukkan adanya perbedaan kondisi belajar setiap orang, agar individual dapat berkembang secara optimal dalam proses belajar diperlukan orientasi yang paralel dengan kondisi yang dimilinya dituntut penghargaan akan individualitas. Dalam pengajaran beberapa perbedaan yang harus diperhatikan, yakni:
1.      Perbedaan umur
2.      Perbedaan intelegensi
3.      Perbedaan kesanggupan dan kecepatan
4.      Perbedaan jenis kelamin
Perbedaan individual tersebut harus mendapat perhatian guru agar berhasil dalam pemberian pembelajaran kepada siswa. Untuk mengetahui itu guru harus mengenal perbedaan yang ada pada siswa, antara lain dengan cara tes, mengunjungi rumah orang tua siswa, sosiogram, dan case studi.

B.     Pengajaran Individual Dapat Mencakup Cara-Cara Pengaturan Sebagai Berikut:
1.      Rencana Studi Mandiri (Independent Study plans)
Guru dan siswa bersama-sama mengadakan perjanjian mengenai materi pelajaran yang akan dipelajari dan apa tujuannya. Para siswa mengatur belajarnya sendiri dan diberikan kesempatan untk berkonsultasi secara berkala kepada guru untuk memperoleh pengarahan atau bantuan dalam menghadapi tes dan menyelesaikan tugas-tugas perseorangan.
2.      Studi yang Dikelola Sendiri (Self-Directed Study)
Siswa diberi sejumlah daftar tujuan yang harus dicapai serta materi pelajaran yang harus dipelajari untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dilengkapi dengan daftar kepustakaan. Pada waktu-waktu tertentu siswa menempuh tes dan dinyatakan lulus apabila telah memenuhi kriteria yang ditetapkan.
3.      Program Belajar yang berpusat pada siswa (Learner-Centered Program)
Dalam batas-batas tertentu siswa diperbolehkan menentukan sendiri materi yang akan dipelajari dan dalam urutan yang bagaimana. Setelah siswa menguasai kemampuan-kemampuan pokok dan esensial, mereka diberi kesempatan untuk belajar program pengayaan.
4.      Belajar Menurut Kecepatan Sendiri (Self-Pacing)
Siswa mempelajari materi pelajaran tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetakan oleh guru. Semua siswa arus mencapai tujuan pembelajaran khusus yang sama, namn mereka mengatur sendiri laju kemajuan belajarnya daam mempelajari materi pelajaran tersebut.
5.      Pembelajaran yang ditentukan oleh siswa sendiri. (Student-Determined Instruction)
Pengaturan pembelajaran tersebut menyangkut: penentuan tujuan pembelajaran (umum dan khusus), pilihan media pembelajaran dan nara suumber, penentuan alokasi waktu untuk mempelajari berbagai topik, penentuan laju kemajuan sendiri, mengevaluasi sendiri pencapaian tujuan pembelajaran, dan kebebasan untuk memprioritaskan materi pelajaran tertentu.
6.      Pembelajaran Sesuai Diri (Individual Instruction)
Strategi pembelajaran ini mencakup enam unsur dasar, yaitu, kerangka waktu yang luwes, adanya tes diagnostik yang diikuti pembelajaran perbaikan (memperbaiki keselahan yang dibuat siswa atau memberi kesempatan kepada siswa untuk ;melangkah bagian materi pelajaran yang telah dikuasainya, pemberian kesempatan kepada siswa untuk memilih bahan belajar yang sesuai, penilaian kemajuan belajar siswa dengan menggunakan bentuk-bentuk penilaian yang dapat dipilih dan penyediaan waktu mengerjakan yang luwes, pemilihan lokasi belajar yang bebas, dan adanya bentuk-bentuk kegiatan belajar bervariasi yang dapat dipilih.
7.      Pembelajaran Perseorangan Tertuntun (Indivully Prescribed Instruction)
Sistem pembelajaran ini didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran terprogram. Setiap siswa diarahkan pada program belajar masing-masing berdasarkan rencana kegiatan belajar yang telah disiapkan oleh guru atau guru bersama siswa berdasrkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan dirumuskan secara operasional. Rencana kegiatan ini berkaitan dengan materi pelajaran yang harus dipelajari atau kegiatan yang harus dilakukan siswa.
8.      Metode dan teknik yang digunakan
a.       Metode Tanya Jawab
Tanya jawab ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Dengan metode ini, antara lain dapat dikembangakan keterampilaan mengamati, menginterprestasi, mengklasifikasi, membuat kesimpulan dan menerapkan. Metode Tanya jawab mempunyai tujuan agar siswa dapat mengerti atau mengingat ingat tentang apa yang dipelajari.
b.      Metode Tugas
Metode tugas adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan didalam kelas, dihalaman sekolah, dan diperpustaan ataupun dirumah asalkan tugas itu dapat dikerjakan. Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran yang terlalu banyak sementara waktu sedikit. Tugas biasanya bisa dilaksanakan dirumah, disekolah, dan diperpustakaan. Tugas bisa merangsang anak untuk aktif belajar, baik secara individual ataupun kelompok.
c.       Metode Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan–kebiasaan tertentu, juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik.
d.      Metode Pembiasaan
Metode pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk pembiasaan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.
e.       Metode Keteladanan
Keteladanan dalam bahasa arab di sebut uswah, iswah, atau qudwah, qidwah yang berarti perilaku baik yang dapar ditiru oleh orang lain (anak didik). Metode keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya pencapaian keberhasilan pendidikan.
f.        Teknik yang biasa digunakan dalam pembelajaran individual
Teknik yang digunakan dalam pembelajaran individual adalah teknik bertanya dan memberi motivasi, menimbulkan rasa keinginan tahuan seorang siswa. Sedangkan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran individual adalah pendekatan konstruksivisme, pendekatan masalah, dan realistik.


C.  Siswa Lamban belajar
1.    Pengertian Siswa lamban Belajar
Istilah siswa lamban belajar dan berprestasi rendah mengandung pengertian yang tidak jauh berbeda, dua-duanya saling berkaitan satu sama lain. Siswa lamban belajar dan berprestasi rendah adalah siswa yang kurang mampu menguasai pengetahuan dalam batas waktu yang telah ditentukan karena ada factor tertentu yang mempengaruhinya.   
Siswa yang lamban belajar dan berprestasi rendah dapat pula di akibatkan oleh factor IQ. Menurut penelitian Binet dan Simon anak yang lemah mental memiliki IQ antara 50 sampai 69 tergolong anak yang lamban belajar. Mereka itu sangat sulit dididik. Jika memungkinkan untuk dididik mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memahami pelajaran kendatipun pada akhirnya prestasi yang di capainya tidak semaksimal siswa yang lainnya. Siswa lamban belajar yang di sebabkan oleh factor IQ, pada umumnya memiliki prestasi rendah, lain halnya dengan siswa lamban belajar yang diakibatkan oleh lemahnya kemampuan menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar tertentu pada sebagian materi pelajaran yang harus dikuasi sebelumnya
2.    Cara Guru Menangani Siswa Lamban Belajar
Ada beberapa cara untuk menangani siswa yang lamabn belajar di dalam kelas, sebagi berikut:
a.       Berikan instruksi secara lebih sederhana dan bertahap
b.      Pengulangan secara terus menerus. Materi yang sedang dipelajari diulang-ulang sebanyak 3-5 kali. Dibutuhkan penguatan kembali melalui kegiatan praktik untuk dapat membantu proses generalisasi.
c.       Selalu memberi dukungan pada anak.
d.      Memberi penguatan pada anak agar anak bisa mencapai apa yang dicita-citakan.
e.       Ajarkan strategi belajar yang efektif dan efisien.
f.        Ikut sertakan dalam kegiatan tutorial di sekolah. Hal ini bisa disebut dengan “peer tutoring” atau privat. Bukan untuk meningkatkan prestasinya, melainkan agar anak menjadi optimis terhadap kemampuannya dan memberinya harapan yang realistis dan dapat dicapai.
g.      Ajarkan konsep-konsep yang penting dan abaikan detil-detil yang kurang penting.
h.      Bantu anak memiliki pemahaman dasar mengenai konsep baru dan tidak menuntut agar ia menghafal materi dan fakta yang tak berarti buat dirinya.
i.        Gunakan alat peraga. Kalau bisa juga dengan penunjuk visual sebanyak-banyaknya. Namun jangan membingungkan siswa.
j.        Tidak memaksa siswa untuk bersaing. Alangkah bijak kalau orang tua tidak memaksa siswa untuk berkompetisi aau bersaing dengan anak yang memiliki kemampuan lebih tinggi.
k.      Berikan materi yang dipelajari dalam konteks “high meaning”. Ini berguna untuk mengetahui apakah siswa memahami arti bacaan mereka atau arti suatu pertanyaan mengenai materi baru.
l.           Menunda ujian akhir dan penilaian. Perlu memberikan umpan balik dan dorongan yang lebih sering bagi siswa yang berkesulitan belajar. Evaluasi terhadap tugas mereka sebagai tambahan pengajaran akan sangat membantu. Dengan kata lain, suatu kesadaran yang konstan mengenai siswa akan membentuk kepercayaan diri dan kemampuan mereka. Bagi sebagian siswa menunda ujian akhir mereka sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari mungkin merupakan cara terbaik.
m.    Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang “tidak pernah gagal”.
D.  Siswa Cepat belajar
1.    Pengertian Siswa Cepat Belajar
Murid yang cepat belajar adalah murid yang cepat sekali dalam menerima, memahami dan menguasai pelajaran yang diberikan kepadanya dengan prestasi yang baik sekali. Hasil prestasi yang baik itu bukan hanya pada mata pelajaran tertentu melainkan meliputi semua mata pelajaran. Sehingga hasil prestasi belajar yang dicapai dapat dilihat pada rapor dan nilai ujian ahirpun baik sekali.
Mereka ini pada umumnya mempunyai intelegensi tinggi. Tetapi sebaliknya murid yang mempunyai intelegensi tinggi belum tentu merupakan murid cepat belajar. Banyak murid yang mempunyai integensi tinggi akan tetapi prestasi belajarnya rendah, mereka ini disebut “under ecieiver”. Kemungkinan rendahnya prestasi yang dicapai disebabkan kurang memiliki motivasi, kurang waktu belajar dan sebagainya, karena kapasitasnya tidak dimanfaatkan dengan sempurna. Adakalanya murid cepat belajar dalam menguasai mata pelajaran tertentu. Misalnya: seorang murid cepat memelajari seni lukis sehingga hasilnya baik sekali, begitu juga murid yang lain cepat mmpelajari seni lukis sehingga hasilnya baik sekali, tetapi murid tersebut sangat lambat menguasai mata pelajaran yang alain sehingga prestasinya rendah, sehingga prestasi rata-rata hasil belajarnya secara keseluruhan rendah. Murid yang demikian memilki bakat sehingga tidak sepenuhnya dapat digolongkan sebagai murid cepat belajar.
2.    Cara Guru Menangani Siswa Cepat Belajar
Cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi masing-masing murid cepat belajar adalah :
a.    Pelayanan Bimbingan Pendidikan 
Usaha Penyaluran Yang dimaksud ialah untuk menyalurkan kemampuan murid yang cepat belajar dan mengisi kelebihan waktu dikelas digunakan sistem pengajaran moduldan pengelompokan mata pelajaran mayor dan pilihan:
·         Sistem Pengajaran Modul : Sistem pengajaran modul sangat sesuai bagi murid cepat belajar, karena mereka mampu belajar sendiri dengan baik tanpa pengawasan, mempunyai minat yang besar, sangat aktif  dan selalu haus akan hal-hal yang baru, mampu mengkritik diri sendiri, kaya perbendaharaan bahasa sehingga mampu memahami apa yang dibaca dengan cepat. Ia mampu menarik generalisasi, menghubung-hubungkan dan mampu mengkomprehensifkan pengertian-pengertian dan berfikir secara logis. Sistem pengajaran dengan modul memerlukan sifat-sifat dan kebiasaan serupa.
·         Menyediakan Mata Pelajaran Pilihan : Dalam kurikulum sekolah pembangunan ada mata pelajaran pilihan dan mayor. Mata pelajaran mayor adalah mata pelajaran yang harus diikuti semua murid, sedangkan mata pelajaran pilihan diambil oleh murid yang berminat pada mata pelajaran itu. Dengan adanya mata pelajaran tersebut maka waktu yang luang dari murid yang cepat belajar dapat disalurkan. Terutama jika mereka diberi kesempatan mengambil mata pelajaran pilihan melebihi beban yang telah ditentukan. Aktivitas guru/konselor dalam hal ini adalah: (1) Membantu mereka memilih modul pengayaan dan modul-modul pilihan lain sesuai dengan minatnya, kapasitas dan cita-cita mereka. Dengan demikian hal ini dianggap merintis pemilihan jurusan/jalur pendidikan dan jabatan yang sesuai .(2) Membantu  terwujudnya kelompok-kelompok diskusi, kelompok penyesuaian modul dan mereka akan aktif didalamnya. Bersamaan dengan hal itu maka guru sebaiknya merencanakan wisata belajar keobyek-obyek tertentu sesuai dengan kebutuhan pendalaman modul/mata pelajaran tertentu.
Sistem Pengadaptasian
Konselor berusaha memberikan informasi dan tafsiran tentang sifat-sifat dan kebiasaan, kemampuan dan kebutuhan murid cepat belajar kepada guru, agar guru dapat memilih metode pengajaran yang sesuai dengan sifat-sifat, kebiasaan, kemampuan dan kebutuhan murid tersebut.
1.      Pengajaran individual (individual instruction) : Murid cepat belajar mempunyai sifat-sifat kemampuan belajar secara individual.
  1. Belajar sendiri : Murid cepat belajar semakin terangsang cara belajar sendiri. Kehausan akan ilmu pengetahun cepat terpenuhi dalam kesempatan ini.
  2. Prosedur sosial dalam pengajaran : Menggiatkan murid cepat belajar untuk membentuk belajar kelompok. Jadi aktivitas konselor dalam usaha pengadaptasian adalah : Menyampaikan sifat-sifat minat, kemampuan, kebutuhan dan masalah murid cepat belajar kepada guru, memberi saran penggunaan metode pengajaran yang efisien, menyampaikan sikap dan tingah murid tersebut kepada orang tuanya, dengan maksud agar cara-cara dan tingkah lakunya dirumah dapat berubah, pemanjaan harus dikurangi.

3)    Usaha Penyesuaian
·         Meningkatan motivasi belajar.
·         Menghilangkan kecemasan dan kekhawatirannya jika tidak dapat melanjutkan studinya.
·         Menyadarkan bahwa semua mata pelajaran itu penting, kelalaian salah satu berarti akan menurunkan prestasi keseluruhan.
·         Memperbaiki sikap dan kebiasaan buruknya di kelas.
·         Case conference, yaitu membicarakan bersama-sama guru tentang tingkah laku murid cepat belajar yang berkebiasaan buruk.
Dengan cara ini murid akan memperoleh fell back dari guru-guru tentang tingkah laku bagaimana yang dikehendaki kelas.
b.    Pelayanan Bimbingan Sosial
Usaha penyalurannya adalah :
a)    Untuk murid yang apatis
1.  Menempatkan  dalam kelompok penyelesaian modul.
2. Mengaktifkan dalam kelompok belajar di rumah.
3. Mengikuti kelompok diskusi, kelompok wisata belajar.
4. Mengikutkan ke dalam kepramukaan, campig, dan lainnya.
b)    Untuk murid yang dinamis
Masalah sosial untuk murid sebenarnya berhubungan erat dengan kedisiplinan mengikuti pelajaran. Karena itu layanan secara khusus dalam bimbingan social tidak perlu dikemukakan secara eksplisit. Untuk memenuhi maksud-maksud memperbaiki sosialnya telah dipenuhi dengan layanan bimbingan pendidikan terhadapnya.